ISLAMIC CARTOGRAPHY
Sebelum berdirinya Islam pada abad ke 7M, tidak ada bukti bahwa orang-orang Arab awal menerima gagasan untuk merepresentasikan lanskap secara sistematis. Orang-orang Arab tampaknya mengambil ide pemetaan hanya ketika menyerap budaya orang-orang yang mereka taklukkan dan dari cerita masyarakatnya. Al-Qur'an dan hadits selain memiliki dasar kosmologis yang meliputi sebagian besar literatur geografis kemudian, juga mengandung unsur geografis faktual.
Menurut orang Persia, deskripsi topografi umum dan konsep pembagian dunia yang dihuni menjadi kishvars(iklim/Aqālīm). Mereka membagi kedalam 7 iklim dengan klasifikasi wilayah yang berbeda sesuai dengan arah mata angin yaitu utara, selatan, timur dan barat.
Pada zaman dahulu peta dibuat tidak dengan jarak yang benar-benar betul sesuai dengan kenyataannya. Contoh peta Khalifah Al-Ma’mun yang dikenal dengan peta politik yang dinilai sangat bagus tetapi metodenya tidak jelas. Belum diketahui apakah para ulama benar-benar menggunakan geografi matematika atau tidak.
Sejak dahulu garis bujur dan lintang sudah diperlukan, dahulu menentukannya hanya dari batas iklim saja kemudian kedua garis tersebut secara individual diberi nilai pada masing-masing tempat. Garis lintang dan buur diberi satuan derajat dan menit.
Seperti dalam agama islam, bahwa pelaksanaan dalam beribadah dengan memusatkan kepada Ka’bah. Dengan kata lain dari semua wilayah yang ada akan menghadap/memusat ke Ka’bah di Mekah.
Komentar
Posting Komentar